| credit: Webinar Write to Build Solidarity: Stop KBGO, Start the Change on Youtube |
Ada satu kebiasaan kecil nih yang tanpa sadar sering saya lakukan setiap kali membuka smartphone—terutama saat membuka media sosial: scroll~ sampai lupa waktu.
Saya seperti tenggelam dalam layar. Jari bergerak begitu cepat, seakan sudah terbiasa. Layar terus bergulir menampilkan beragam potongan cerita. Satu postingan, satu reel, lalu konten berikutnya. Kadang muncul video lucu yang menghibur, cerita yang mengharu biru, foto perjalanan yang membuat ingin ikut pergi, atau sekadar konten random yang lewat begitu saja.
Namun, di antara semua itu, ada juga hal-hal yang membuat merasa agak risih ketika melihatnya.
Komentar yang merendahkan seseorang.
Candaan yang sebenarnya bernada melecehkan.
Atau unggahan foto pribadi yang jelas tidak seharusnya tersebar.
Meskipun heran, "kok bisa seperti itu ya?" Namun, refleks yang sering saya lakukan yaitu: berhenti sebentar, membaca sekilas, lalu… lanjut scroll lagi. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Padahal, bagi orang yang berada di posisi tersebut, pengalaman itu bisa meninggalkan luka yang tidak terlihat. Fenomena ini dikenal sebagai Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO).
| credit: Webinar Write to Build Solidarity: Stop KBGO, Start the Change on Youtube |
Isu ini ternyata membuat saya sadar setelah saya mengikuti sebuah kegiatan literasi digital dalam rangka International Women’s Day 2026.
Kegiatan webinar dengan tema "Write to Build Solidarity: Stop KBGO, Start the Change!" diselenggarakan oleh Jaringan Gender Indonesia berkolaborasi dengan Program Studi Jender dan Pembangunan Universitas Hasanuddin, Komunitas Blogger Anging Mammiri, Komunitas Emak Blogger, Yayasan Melatis, Kohati Badko Sulsel dan Pelakita.ID
Melalui webinar tersebut, saya seperti diajak untuk melihat kembali kebiasaan kecil yang selama ini saya anggap biasa terkait ruang digital.
Saya Baru Sadar, Itu Bukan Hal Biasa
Bagian yang paling "mengena" bagi saya adalah saat menyadari satu hal: saya lebih sering memilih diam.
Khususnya bagi perempuan dan anak rentan yang sangat rentan mengalami dampak teknologi digital mulai dari cyberbullying, penyebaran konten intim tanpa izin, grooming online, maupun eksploitasi seksual anak.
Saya melihat sesuatu yang salah, tapi tidak bereaksi.
Saya tidak ikut menyebarkan, tapi juga tidak melakukan apa-apa.
Padahal, diam juga punya dampak.
Webinar tersebut menekankan bahwa ruang digital tidak hanya dibentuk oleh aturan, tapi juga oleh perilaku penggunanya.
Artinya, saya juga punya peran.
Sekecil apa pun itu.
Ada Hukum, Tapi Korban Butuh Lebih
Saya juga baru memahami peran Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) sebagai perlindungan hukum bagi korban, termasuk di ruang digital. UU ini menjadi salah satu langkah penting dalam memberikan perlindungan hukum bagi korban kekerasan seksual, termasuk yang terjadi di ruang digital.
Harapan itu ada.
Namun realitanya, tidak semua korban berani melapor.
Rasa takut, stigma, dan kekhawatiran sering membuat mereka memilih diam.
Di sini saya belajar bahwa dukungan sosial sangat penting.
Tidak menghakimi, tidak menyalahkan, dan mau mendengar—hal sederhana, tapi berarti besar.
Benteng Digital Dimulai dari Kesadaran
Bagian lain yang saya ingat adalah tentang pentingnya menjaga diri di ruang digital. Salah satu konsep yang menarik adalah gagasan tentang “benteng digital”. Benteng ini tidak hanya berupa teknologi, tetapi juga kesadaran pengguna.
Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:
- menjaga kerahasiaan data pribadi
- menggunakan pengaturan privasi pada media sosial
- tidak sembarangan membagikan informasi pribadi
- serta lebih kritis dalam berinteraksi di ruang digital
Langkah-langkah ini mungkin terlihat kecil, sepele dan terlewat bagi kita, tetapi memiliki dampak besar dalam menjaga keamanan diri.
Apalagi di era digital saat ini, data pribadi bisa menjadi aset sekaligus risiko. Oleh karena itu, literasi digital menjadi keterampilan yang semakin penting.
Saya mulai lebih sadar bahwa keamanan bukan hanya soal teknologi, tapi juga kebiasaan.
Jadi, saya mulai berpikir ulang sebelum berinteraksi dalam dunia digital. Hal-hal kecil, tapi amat sangat penting.
| credit: Webinar Write to Build Solidarity: Stop KBGO, Start the Change on Youtube |
Start the Change, Dari Hal Sederhana
Pesan yang paling saya ingat: Start the Change.
Saya dulu berpikir perubahan harus besar. Sekarang saya tahu, perubahan bisa dimulai dari hal kecil.
Saya bisa memilih untuk tidak ikut menyebarkan konten yang merendahkan.
Saya bisa lebih peduli saat melihat sesuatu yang tidak benar.
Saya bisa berhenti menganggap candaan melecehkan sebagai hal lucu.
Saya mungkin tidak bisa mengubah internet.
Namun, saya bisa mengubah cara saya bersikap di dalamnya. Dan mungkin, itu sudah cukup untuk menjadi awal.
Awal untuk ruang digital yang lebih aman.
Lalu, bagaimana dengan kalian?
- March 18, 2026
- 0 Comments










